Di bawah pimpinan Kades Darsilo, Warga Desa Tumbang Mantuhe, bersama-sama mengucapkan Ikrar Lima Pasal di akhir Pumpung Hai 9 sd 10 Desember 2017. (Foto/Dok.YBIT, 2017)

Lima Janji Uluh (Orang) Dayak Desa Tumbang Mantuhe

Satu. Kami Orang Dayak Desa Tumbang Mantuhe berjanji untuk menjaga dan mengembangkan budaya Dayak Mantuhe supaya kami bisa menjadi Dayak modern dan tanggap dengan kemajuan zaman;


Kedua. Kami Orang Dayak Desa Tumbang Mantuhe berjanji bahwa siapa saja dari luar yang hendak berusaha di petak-danum (kampung-halaman) kami Tumbang Mantuhe, harus meminta izin kepada kami Uluh Mantuhe;


Ketiga. Kami Orang Dayak Desa Tumbang Mantuhe membentuk polisi desa guna menjaga petak-danum kami;


Keempat. Kami Orang Dayak Desa Tumbang Mantuhe berjanji untuk mendirikan Sekolah Budaya Dayak Ngaju;


Kelima. Kami Orang Dayak Desa Mantuhe berjanji untuk mendirikan Desa Adat Tumbang Mantuhe.


 

 

Tumbang Mantuhe, 10 Desember 2017.

 

 

Keputusan lain adalah sebuah Peteh yang bersifat internal dan organisatoris, berbunyi sbb:

(1).Sesuai dengan aspirasi seluruh peserta Pumpung Haï, maka Pleno Pumpung Haï memutuskan untuk membentuk sebuah Badan Pelaksana Keputusan-Keputusan PH 2017 ;

(2). Pumpung Haï memberi mandat kepada Majelis Pimpinan Sidang Pumpung Haï yang terdiri dari tujuh orang yaitu Dogok Herry, Yeni, Santi, Sikerli, Dodi Kurniadi dan Ipeldi, sebagai Badan Pelaksana Keputusan-Keputusan Pumpung Haï 2017.

(3). Badan tersebut mempunyai tugas melaksanakan keputusan-keputusan Pumpung Haï 2017, mempersiapkan dan memilih pelaksana Pumpung Haï II. Pumpung Haï akan dilaksanakan satu kali setiap lima tahun. 

(4). Perincian untuk pelaksanaan keputusan-keputusan Pumpung Haï  2017 dipercayakan kepada Badan Pelaksana.

Tumbang Mantuhé, 10 Desember 2017.

PH dan keputusan-keputusannya, saya baca sebagai ayunan langkah pertama ke depan warga Desa Tumbang Mantuhe untuk berupaya menjadi nakhoda kehidupan mereka sendiri. Di tengah mereka. terasa benar saya hanyalah seorang murid kecil dalam sebuah perguruan tinggi kehidupan warga desa yang mulai bangkit. Sayup dan lirih saya seakan mendengar lirik sansana diiringi suara seruling balawung mengarungi langit: “Kampung dan tanah ini tak kami jual tuan-tuan dan puan-puan”.