Seperti halnya dengan Hotman Situmorang dari Tapanuli, demikian juga halnya dengan Fado dari Nusatenggara Timur, fasih berbahasa Dayak. Melalui kegiatannya di daerah pedesaan, Fado , akrab dan dicintai oleh para petani Gunung Mas yang ia jelajahi dari waktu ke waktu.(Foto/Dok.: YBIT, 2017)

DAYAK KALTENG DI AKHIR TAHUN 2017 Oleh Kusni Sulang

Yang dimaksudkan dengan kebangkitan di sini adalah keadaan yang dicapai setelah ada kesadaran dan kemampuan untuk melepaskan diri dari cengkeraman kepapaan secara mandiri  mencapai tingkat kehidupan manusiawi dengan kualitas yang bersifat spiral. Upaya ini dicapai bukan karena ada messias dari luar sebab juruselamat itu tidak lain dari  diri warga masyarakat itu sendiri.

Melalui proses berliku, Amerindian seperti di Bolivia, Brasilia dengan Paysans Sans Terre-nya, Zapatist di Provinsi Chiapas, Meksiko,  mampu berkuasa di negeri mereka sendiri di mana mereka untuk waktu yang panjang pernah menjadi budakbelian, suatu ekstrim dari  keterpurukan. Artinya keterpurukan sekalipun total bukanlah sesuatu yang langgeng dan apalagi takdir tapi hasil dari suatu politik yang tersistem dan sengaja disistemkan.

Pada mulanya, Amerindian melancarkan perjuangan untuk hidup manusiawi secara ekslusif dan bisa dikatakan emosional.Mereka tidak merangkul orang-orang lain, misalnya warga berkulit putih atau pun hitam  yang senasib dengan mereka. Hasilnya perjuangan emansipasi mereka selama bertahun-tahun bisa dikatakan berjalan di tempat. Hasil -hasil signifikan baru mereka  peroleh ketika mereka keluar dari ekslusivitas dan menjadikan perjuangan kebangkitan sebagai perjuangan inklusif.

Kunci diperolehnya hasil baru dari perjuangan ini terletak pada adanya orientasi jangka panjang atau bersifat strategis, adanya organisasi dan pimpinan yang merakyat serta memiliki komitmen manusiawi yang kuat.

Yang berjasa dalam memberikan orientasi baru bagi perjuangan Amerindian, adalah  Pastur Paulo Freire dengan Gerakan Proses Penyadaran dari akar rumput.

Pengalaman yang mirip juga diperlihatkan oleh perjuangan Black American (Amerika Hitam) untuk memperoleh hak-hak sipil (civil rights).

Sebelumnya Amerika Hitam mencoba mendirikan negara sendiri di dalam wilayah Amerika Serikat seperti yang dilakukan oleh Black Panther dengan tokoh utamanya Malcolm X.Untuk tujuan ini Black Panther bahkan  menggunakan senjata dengan keyakinan bahwa “kekuasaan politik lahir dari laras senapan”,  hanya saja sejarah menyaksikan betapa Black Panther membentur tembok besi. Sampai sekarang Black American State di Amerika Serikat tidak pernah terwujud.

Pikiran yang mirip  adalah yang berlangsung di kalangan Australia Aborigin,    

Arah baru gerakan Amerika Hitam diajukan oleh Pendeta Martin Luther King Jr yang terkenal dengan kata-katanya: “I have a dream”. Mimpi itu adalah Civil Rights untuk seluruh warga Amerika. Orientasi baru ini merangkul orang-orang non Hitam agar Amerika Serikat memberikan Civil Rights untuk semua warganegaranya. Perjuangan dengan orientasi baru akhirnya mencapai tujuan sekalipun Pendeta Martin harus membayar dengan nyawanya. Barrack Obama yang berkulit hitam tidak terbayangkan bisa menjadi presiden Amerika Serikat jika apa yang diperjuangkan oleh Martin Luther King Jr dan angkatannya tidak memperoleh kemenangan.

Dari contoh-contoh di atas, mulai dari Amerindian, Black American dan Australia Aborigin (contoh ini masih  bisa diperbanyak) nampak bahwa kebangkitan berawal dari adanya arah yang obyektif, adanya organisasi (tentu saja dengan program-programnya) dan pimpinan yang berkomitmen teguh serta manusiawi. Tiga unsur ini bisa disingkat sebagai kesadaran yang dibangun melalui proses penyadaran sehingga kebangkitan itu merupakan gerak dalam (inner movement) dari masyarakat tersebut.

Bagaimana dengan Dayak Kalimantan Tengah (Kalteng)? Apakah mereka sudah bangkit? Mantan Sekda Provinsi Kalteng pada masa pemerintahan Gubernur Dr. A. Teras Narang, SH, Dr. Siun Jarias, SH., MH, menyebut perjuangan Dayak Kalteng untuk keluar dari lembah keterpurukan total, baru berada pada tingkat “Dayak Misik” belum sampai pada taraf “hingkat” (bangkit). Misik memang sudah tidak tidur, tapi bisa saja masih terbaring. Misik tidak sama dengan hingkat.

Jika menggunakan tiga standar kebangkitan di atas maka masyarakat Dayak sekarang masih jauh dari bangkit. Karena itu apabila kita menelusuri daerah pedesaan provinsi ini, yang banyak kita dengar adalah keluhan dan keluhan; ratapan dan ratapan. Yang kita lihat adalah kepapaan dan ancaman kepapaan yang kian mengerikan.Ratapan dan keluhan bukanlah tanda kebangkitan tapi memang bisa menjadi syarat yang mempercepat tersulutnya kesadaran. Sedangkan ancaman kepapaan yang mereka lihat, membuat mereka bingung tentang apa yang harus dilakukan sehingga melahirkan budaya latah. Orang “nyedot” ikut”nyedot”; orang menanam sawit ikut menanam sawit; orang membabat hutan ikut membabat hutan. Masyarakat yang masih kuat ciri patron-client-nya, sisa dari masyarakat tribalisme (hari ini bisa disebut sebagai neo-tribalisme)  ketiadaan  patron. Mereka menjadi masyarakat yang yatim-piatu. Sedangkan  penyelenggara Negara berbagai tingkat yang secara teori sesungguhnya bertanggungjawab terhadap kehidupan warganegaranya, walau  kenyataan selama Republik Indonesia berdiri mengatakan mereka sangat sibuk dengan cita-cita dan kepetinngan-kepetingan mereka sendiri; Kenyataan demikian pula yang dengan sederhana tapi gamblag memperlihatkan bahwa  Republik ini kekurangan Negarawan dan banyak pangrehpraja sehingga dari mereka tidak banyak pula yang bisa diharapkan. Harapan akan menusuk hati tambah dalam. 

Di pihak  lain, organisasi masyarakat adat sejak Orde Baru sudah diperlemah bahkan bisa disebut binasa. Kelembagaan adat yang ada tidak sedikit yang terkontaminasi virus “uang sang raja” yang makin merajalela dengan kehadiran masif investor.
Sehingga organisasi masyarakat adat yang baru diupayakan bangkit kembali pada tahun 2008 tidak bisa melakukan fungsi dan peran sebagaimana mestinya. Lebih-lebih ketika lembaga-lembaga tersebut dijadikan kuda tunggangan kepentingan politik. Akibatnya  masyarakat, cq masyarakat adat  pun menjadi masyarakat otopilot, kata lain untuk masyarakat yang yatim-piatu.  Keadaan masyarakat adat makin lemah   oleh tradisi berorganisasi masyarakat yang bisa disebut tidak ada karena semua merasa diri adalah pangkalima (jago, walau pun umumnya hanyalah ‘jago kandang’, “balécak taharep kulae”).

Untuk melakukan Gerakan Proses Penyadaran menuju kebangkitan, sebenarnya mereka yang bersekolah, terutama yang bersekolah tinggi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bisa berperan desisif untuk mengawali gerakan. . Tapi harapan ini pun seperti umumnya harapan banyak menyakitkan, demikian pula harapan kepada lulusan sekolah tinggi dan LSM. LSM umumnya yang berpos di kota. Di Kalteng, kecuali Borneo Institute (BiT) yang mempunyai kantor di desa yang jauh di pedalaman.

Saya khawatir kepapaan dijadikan barang dagangan atas nama pemberdayaan, sedangkan yang diberdayakan bukanlah kaum papa di pedalaman.

Sementara  mereka yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi  (di Kalteng 2017 ini di antara setiap 20 penduduk terdapat seorang yang bergelar sarjana) nampaknya harapan pun tidak banyak bisa digantugkan pada mereka sebab barangkali para sarjana inilah yang pertama-tama patut diberdayakan sebelum melakukan pemberdayaan masyarakat. Kesarjanaan tidak identik dengan kemampuan. Lebih-lebih akan semakin jauh jika dilihat dari  cita-cita republikan dan berkeindonesiaan –cita-cita yang tidak memberikan manfaat material di masyarakat yang kian hedonistik. Hedonisme mereduksi nilai manusia dan kemanusiaan. Keadaan akan menjadi runyam jika dikaitkan dengan cara mendapatkan gelar sarjana. 

Ketika menelusuri pedesaan Kalteng sejak hampir setengah tahun silam, saya menjumpai banyak hal menarik. Salah satu hal menarik itu adalah adanya orang-orang non-Dayak  yang giat mendamping kaum tani dan bisa dibilang menjadi teladan dalam bekerja (badan). Yang pertama adalah Hotman Situmorang dari Tapanuli, sedangkan yang lain adalah Fado dari Nusa Tenggara Timur. Di panggang terik matahari kulit keduanya hitam legam. Keduaya selesai dengan pendidikan tinggi dan sangat fasih berbahasa Dayak Ngaju. Pengetahuan yang mereka peroleh dari sekolah dan kelasbelajar-kelasbelajar lainnnya mereka bagi kepada kaum tani di pedesaan dalam bercocok tanam. Melalui proses kerja (terutama kerja badan) bersama ini keduanya memperoleh kepercayaan dari para petani dan dipandang sebagai bagian dari masyarakat mereka. Melalui kedekatan ini, kemudian keduanya, terutama Fado, secara tidak indokriner menyemai kesadaran baru bahwa untuk keluar dari kepapaan, kita terutama bersandar pada kepala, kaki dan tangan sendiri. Tuhan hanya menolong mereka yang mau menolong diri mereka sendiri.  

Dua orang ini jadinya bagi saya merupakan tokoh istimewa. Istimewa terutama karena mereka sanggup meninggalkan kenyamanan kota untuk hidup di pedesaan yang sunyi dan keras.  Istimewa karena mereka termasuk orang-orang langka di antara mereka yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi,  mau , mampu, dengan rendah hati tanpa kepongahan orang bersekolah tinggi   menyatukan diri dengan kaum tani. Makan apa yang  dimakan kaum tani, bekerja sebagaimana pekerjaan yang dilakukan petani. Fado, misalnya, tanpa keseganan sedikit pun, dengan kedua tangan telanjang mengaduk tinja sapi atau ayam dengan sampah untuk dijadikam pupuk – hal yang oleh sementara petani desa dipandang menjijikkan. Tapi demikianlah barangkali harga yang harus dibayar untuk mendapatkan kepercayaan, langkah awal dari proses penyadaran. Teladan merupakan bahasa terbaik dan gampang dimengerti. Istimewa, karena  keduanya merupakan “cendekiawan organik” yang juga langka di Kalteng, tapi sekaligus sangat diperlukan.

Melalui praktek terutama yang dilakukan oleh Fado, saya tidak ragu mengatakan  bahwa Fado adalah seorang Dayak Indonesia. Secara budaya, Fado menghayati budaya Dayak dan merasakan kepentingan Dayak adalah kepentingannya juga.  Duka dan bahagia Dayak adalah duka dan bahagianya. Jalan Fado adalah jalan menjadi Uluh Kalteng dan Indonesia. Mencermati beberapa keadaan yang saya hadapi sebelum berjumpa Fado dan Hotman, saya sampai pada kesimpulan bahwa Dayak adalah selain Dayak genealogis, juga adalah mereka yang senasib dan merasa senasib dengan Dayak. Dalam hal ini bukan tidak mungkin bahwa Dayak genealogis tidak merasa senasib dengan Dayak. Dayakkah orang tipe ini?

Berangkat dari pemikiran yang muncul dari kenyataan demikian, saya berhipotesa bahwa pemberdayaan di Kalteng niscayanya bersifat inklusif. Dayak dalam pengertian di atas jadinya merupakan kekuatan utama proses kebangkitan Kalteng. Dengan demikian, dari Kalteng sebagai kampung-halaman kita berdiri memandang tanahair dan merangkul bumi. Etnik dan bangsa hanyalah perbatasan semu yang dilahirkan perkembangan sejarah bagi kemanusiaan yang tunggal. This is my dream. Inilah mimpi saya.